Tampilkan postingan dengan label Serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serius. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

Ramadhan : First Impression dan Nostalgia

Mungkin ini sudah termasuk telat untuk Aku menceritakan First Impression-ku di Ramadhan tahun ini. Puasa sudah masuk hari ke-13. Masih tinggal 20 hari lagi, dan Masjid mulai sepi. orang lebih memilih menghabiskan waktu untuk menghabiskan kolak pisang yang masih tak tersentuh ketika buka puasa karena kekenyangan dengan menu utama buka puasa, Mungkin. Tapi, Aku tidak mau menjadi orang yang munafik. Aku juga kadang begitu.


Untuk pertama puasa kemarin, Aku masih saja ingat ketika Aku berangkat tarawih dengan Ayahku. Dengan baju koko yang udah agak kekecilan, dengan celana yang panjangnya tidak sampai menutupi mata kaki, dan leher yang di kalungkan dengan sajadah kebesaran.

Aku juga masih ingat ketika Aku diberikan istirahat oleh Ayahku ketika Aku sudah malas berdiri untuk sholat. Aku bahkan sampai tertidur dan Ayahku membangunkanku ketika sholat tarawih sudah selesai.

Aku juga masih saja ingat ketika buka puasa, Aku menjejerkan makanan di depan mukaku. Banyak sekali makanan yang Aku beli dengan Ayahku. Ada serabi, es campur, dan jajanan-jajanan lain. Aku memang suka membeli makanan yang banyak dengan niat, ketika Aku berbuka puasa nanti, Aku akan balas dendam dan habiskan semua makanan itu tanpa sisa. Nafsu anak kecil ketika dia baru belajar untuk puasa memang tak tertahan. Dan tetap saja. ketika buka puasa dan ketika Aku sudah merasa kenyang, Aku tak lagi menghiraukan makanan yang Aku beli.

Aku juga ingat jelas ketika Ibuku berusaha untuk membangunkanku untuk sahur. Kata ibuku, Aku kalau tidur sudah seperti benda mati. Kalau tak tersentuh, tak bergerak. Kadang kalau Ibuku Jengkel, Ibuku membangunkanku dengan paksa dan kemudian menggendongku.

Semuanya Aku ingat. Aku merasa baru tahun lalu Aku sering berangkat Tarawih dengan Ayahku, membeli makanan sampai tak tersentuh, Ibuku bersusah payah membangunkanku untuk sahur. Di tahun ini, Aku sudah 18 tahun. Aku bisa melakukan itu sendiri. Tarawih juga kadang Aku tak bersama Ayahku lagi. Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak sempat tarawih.

Di tahun ini, untuk kesan pertamaku, Aku tidak bisa lagi untuk beristirahat atau sampai tertidur ketika tarawih. Ibuku selalu mengawasiku dari pojok shaf paling depan dari shaf perempuan. Beliau tidak akan memberikanku ke Masjid lagi kalau aku sampai keluar dari Masjid sebelum Tarawih selesai. Katanya, Aku sudah besar. Aku bisa bersikap dewasa. Tidak dengan main petasan malam lagi, dan tidak keluyuran di Jalan raya.

Untuk kesan pertamaku juga, Aku sudah bisa mengendalikan nafsuku untuk tidak belanja makanan yang banyak lagi untuk buka puasa. Tetap saja dengan Kurma, Nasi dengan lauk yang ibuku masak, kemudian dengan makanan penutup seperti es campur. Itu saja. Tidak sampai Aku malas bangun untuk sholat Maghrib karena kekenyangan.

Dan untuk kesan pertamaku, Aku bersyukur karena Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang di mana aku akan berpuasa satu bulan full di Rumah jika sebelumnya aku harus membagi setengah bulan puasa di Rumah dan setengahnya lagi di kos-kosan. Tentu saja sedih. Dan itu aku rasakan selama 6 tahun dimulai dari ketika aku masuk SMP.

Dan tentunya Aku akan tetap bersyukur tetap diberikan kesempatan untuk merasakan kembali Ramadhan tahun ini walaupun aku masih saja kangen dengan Ramadhan ketika aku kecil. Tapi aku sudah tidak lagi seperti dulu. Ibadah yang aku kerjakan menjadi bekal. Tapi setidaknya aku masih ingin sekali kembali Tarawih dengan Ayahku dan Aku bisa istirahat sampai tertidur ketika Tarawih. Itu sangat berkesan.
          
SEMOGA AKU BISA KEMBALI MEMBERIKAN KESAN PERTAMA PUASAKU DI RAMADHAN TAHUN DEPAN.

Kamis, 18 Juni 2015

Ramadhan : 'Ramadhan, Katanya'

Ramadhan.

Telah datang kembali.

Tercium aroma kenikmatan dan keistimewaan dari bulan yang katanya penuh berkah ini. Ya, memang penuh berkah. Bukan katanya lagi.

Aku sengaja menulis ini pada dini hari ketika aku tidak bisa tidur karena takut telat untuk bangun sahur pertama. Saat ini pukul 0.40. di mana, suara indah lantunan ayat suci Al-Qur’an masih dan akan disajikan sampai menjelang waktu sahur. setiap hari. Menjadi ke-khas-an dari bulan ini.

Sumpah! Aku susah tidur.


***

Sambil membaca pesan ucapan ‘mohon maaf lahir batin’ dari beberapa temanku. Aku sudah memaafkan kalian. Dan semoga kalian juga begitu. Meskipun kadang ada saja yang buat kita jengkel dan kesal, sekesal-kesalnya. Tapi, tak apa, lah.

Dan nanti, Ibu, akan bangun lebih awal. Menyiapkan apa yang menjadi menu sahur. Ya, mungkin, bagi sebagian keluarga akan menyiapkan menu yang istimewa dan lezat. Supaya semua anggota keluarga nafsu makan, katanya. Tapi mungkin tidak bagi  sebagian keluarga yang lain. Saudara-saudara kita yang harus menikmati sahur  dengan apa adanya. Asal besok tidak lapar, katanya.

Tapi, Ramadhan bukan hanya bermakna berpuasa dari HAUS dan DAHAGA. Tapi juga berpuasa dari HAWA NAFSU, katanya. Tapi, padahal, katanya, setan akan dikurung selama satu bulan penuh? Tapi kenapa kita harus menahan godaan berpuasa? Siapa yang akan menggoda? Mungkin saja kita yang akan menggoda diri sendiri.

Kurang lebih, sekitar 12 jam akan merasakan Haus dan Dahaga. Dimulai dari sebelum adzan subuh (imsak) sampai Maghrib. Lalu setelah itu, kenikmatan berbuka puasa yang tiada tara. Bisa lebih nikmat buka puasa apapun menunya daripada makan masakan restoran mahal.

Kolak. Mungkin sudah biasa kita dengar di luar bulan Ramadhan. Tapi, entah kenapa, Kolak menjadi salah satu yang membawa ke-khas-an tersendiri di bulan Ramadhan. Selalu. Selain itu, iklan-iklan sirup bersambung sudah tayang di tv dari beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan.


Dan Kurma. Tidak lengkap rasanya puasa tanpa kurma, katanya. Lalu kemudian, Es buah. Memang di luar Ramadhan juga kita banyak temui ada banyak Es buah. Tapi, kenikmatannya luar biasa ketika akan es buah sebagai makanan penutup ketika berbuka puasa.
            

Ada lagi. Petasan. Ya, permainan yang bisa dibilang dilarang untuk dimainkan tapi tetap saja masih terdengar suara ledakan keras dari petasan. Bagaimanapun petasan dilarang, dan berapa kasus petasan yang meledak di tangan sendiri, tak menyulutkan semangat (terutama anak-anak) untuk memainkannya. Tidak lengkap Ramadhan jika tidak ada petasan, Katanya.

Semua kembali lagi kita rasakan. Bulan ini kembali mengemas segala ke-khas-annya dalam satu paket spesial yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahun. Kembali di kemas dalam kemasan yang menarik. Paket yang ketika dibuka tidak hanya kenikmatan yang didapat. Tapi juga berkah.

Dari semua ‘katanya-katanya’ tadi kita berharap, semoga puasa kita lancar. Tidak ada halangan, Tarawih juga tidak ketika hari pertama saja. Jangan lupa tandai sandal masing-masing.

Selamat Datang, Ramadhan.

Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Marhaban yaa Ramadhan 1436 H.


Ahmad Rofiqi Ilhami - Roficanthropus